Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses
pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan,
merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan.
Sumber Limbah
Larutan
penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat kimia
pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam.
Penghilangan kanji biasanya memberi kan
BOD paling banyak dibanding dengan proses-proses lain. Pemasakan dan
merserisasi kapas serta pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair
yang penting, yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan
tersuspensi dan zat-zat kimia. Proses-proses ini menghasilkan limbah
cair dengan volume besar, pH yang sangat bervariasi dan beban pencemaran
yang tergantung pada proses dan zat kimia yang digunakan. Pewarnaan dan
pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan
bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai, seperti fenol dan logam.
Di Indonesia zat warna berdasar logam (krom) tidak banyak dipakai.
Proses pencetakan menghasilkan limbah yang lebih sedikit daripada
pewarnaan.
Jenis Limbah
1. Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn.
2. Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing)
3. Pigmen, zat warna dan pelarut organic
4. Tensioactive (surfactant)
2. Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing)
3. Pigmen, zat warna dan pelarut organic
4. Tensioactive (surfactant)
Penanganan Limbah
1. Langkah
pertama untuk memperkecil beban pencemaran dari operasi tekstil adalah
program pengelolaan air yang efektif dalam pabrik, menggunakan :
- Pengukur dan pengatur laju alir
- Pengendalian permukaan cairan untuk mengurangi tumpahan
- Pemeliharaan alat dan pengendalian kebocoran
- Pengurangan pemakaian air masing-masing proses
- Otomatisasi proses atau pengendalian proses operasi secara cermat
- Penggunaan kembali alir limbah proses yang satu untuk penambahan (make-up) dalam proses lain (misalnya limbah merserisasi untuk membuat penangas pemasakan atau penggelantangan)
- Proses kontinyu lebih baik dari pada proses batch (tidak kontinyu)
- Pembilasan dengan aliran berlawanan
2. Penggantian dan pengurangan pemakaian zat kimia dalam proses harus diperiksa pula :
- Penggantian kanji dengan kanji buatan untuk mengurangi BOD
- Penggelantangan dengan peroksi da menghasilkan limbah yang kadarnya kurang kuat daripada penggelantangan pemasakan hipoklorit
- Penggantian zat-zat pendispersi, pengemulsi dan perata yang menghasilkan BOD tinggi dengan yang BOD-nya lebih rendah.
3. Zat
pewarna yang sedang dipakai akan menentukan sifat dan kadar limbah
proses pewarnaan. Pewarna dengan dasar pelarut harus diganti pewarna
dengan dasar air untuk mengurangi banyaknya fenol dalam limbah. Bila
digunakan pewarna yang mengandung logam seperti krom, mungkin diperlukan
reduksi kimia dan pengendapan dalam pengolahan limbahnya. Proses
penghilangan logam menghasilkan lumpur yang sukar diolah dan sukar
dibuang. Pewarnaan dengan permukaan kain yang terbuka dapat mengurangi
jumlah kehilangan pewarna yang tidak berarti.
4. Pengolahan
limbah cair dilakukan apabila limbah pabrik mengandung zat warna, maka
aliran limbah dari proses pencelupan harus dipisahkan dan diolah
tersendiri. Limbah operasi pencelupan dapat diolah dengan efektif untuk
menghilangkan logam dan warna, jika menggunakan flokulasi kimia,
koagulasi dan penjernihan (dengan tawas, garam feri atau
poli-elektrolit). Limbah dari pengolahan kimia dapat dicampur dengan
semua aliran limbah yang lain untuk dilanjutkan ke pengolahan biologi.
Jika
pabrik menggunakan pewarnaan secara terbatas dan menggunakan pewarna
tanpa krom atau logam lain, maka gabungan limbah sering diolah dengan
pengolahan biologi saja, sesudah penetralan dan ekualisasi. Cara-cara
biologi yang telah terbukti efektif ialah laguna aerob, parit oksidasi
dan lumpur aktif. Sistem dengan laju alir rendah dan penggunaan energi
yang rendah lebih disukai karena biaya operasi dan pemeliharaan lebih
rendah. Kolom percik adalah cara yang murah akan tetapi efisiensi untuk
menghilangkan BOD dan COD sangat rendah, diperlukan lagi pengolahan
kimia atau pengolahan fisik untuk memperbaiki daya kerjanya.
Untuk
memperoleh BOD, COD, padatan tersuspensi, warna dan parameter lain
dengan kadar yang sangat rendah, telah digunakan pengolahan yang lebih
unggul yaitu dengan menggunakan karbon aktif, saringan pasir, penukar
ion dan penjernihan kimia.
Pemanfaatan Limbah
Industri
tekstil tidak banyak menghasilkan banyak limbah padat. Lumpur yang
dihasilkan pengolahan limbah secara kimia adalah sumber utama limbah
pada pabrik tekstil. Limbah lain yang mungkin perlu ditangani adalah
sisa kain, sisa minyak dan lateks. Alternatif pemanfaatan sisa kain
adalah dapat digunakan sebagai bahan tas kain yang terdiri dari potongan
kain-kain yang tidak terpakai, dapat juga digunakan sebagai isi bantal
dan boneka sebagai pengganti dakron.
Lumpur
dari pengolahan fisik atau kimia harus dihilangkan airnya dengan
saringan plat atau saringan sabuk (belt filter). Jika pewarna yang
dipakai tidak mengandung krom atau logam lain, lumpur dapat ditebarkan
diatas tanah. Jika lumpur mengandung logam, maka ia harus disimpan
ditempat yang aman, sampai ada suatu tempat pengolahan limbah berbahaya
yang dikembangkan di Indonesia, dan yang ada pada saat ini adalah
Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B-3) di Cilengsi,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Referensi :
Referensi :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar